Desa Penyangga Taman Nasional Waykambas

Desa Penyangga Taman Nasional Waykambas

Taman Nasional Way Kambas adalah satu dari dua kawasan konservasi yang berbentuk taman nasional di Propinsi Lampung selain Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999, kawasan TNWK mempunyai luas lebih kurang 125,631.31 ha.(https://waykambas.org/sejarah-taman-nasional-way-kambas/

Jika membahas tentang waykambas maka kita akan ingat dengan wisata, pesona flora dan fauna dan tentunya adalah gajah sebagai icon taman nasional waykambas. Saat ini terdapat 22 desa penyangga taman nasional waykambas, peran desa penyangga taman nasional waykambas sangatlah penting, Salah satu desa penyangga taman nasional waykambas adalah desa Brajaharjosari, desa penyangga tersebut memiliki potensi yang besar dan kearifan lokal dan sangat berpotensi menjadi desa wisata, baik dari segi budaya, hasil bumi dan landscape wilayahnya. Desa Brajaharjosari dan taman nasional waykambas dipisahkan oleh sungai penet. Keaneragaman hayati yang melimpah membuat lokasi ini menjadi sangat special. selain keaneragaman hayati desa brajaharjosari juga terdapat perkampungan bali, perkampungan bali terletak di dusun gunung Agung yang masyarakatnya berasal dari Bali tetapi sudah lama menetap di desa Braja Harjosari. Suguhan seni tari tradisional Bali menjadi andalan utama dalam menyambut dan memberikan hiburan bagi tamu yang berkunjung. Raungan music tradisional Bali yang megah dan terasa otentik, benar-benar akan memberikan pengalaman yang mirip dengan aslinya.

dari sektor pertanian desa brajaharjosari memiliki kelompok tani, produk unggulan pertanian adalah beras organik yang produksinya mencapai 3 ton setiap musimnya. Selain padi, produk pertanian yang lain yaitu jambu kristal, perkebunan buah naga dan beberapa produk buah yang lain. Kesadaran warga desa brajaharjosari tentang desa wisata sudah terbangun dengan baik, hal ini dapat dilihat adanya pokdarwis yang aktif untuk kegiatan wisata.

Suhada, Warga Brajaharjosari Raih Penghargaan Kalpataru 2021

Penghargaan kalpataru merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam bidang lingkungan. Suhada merupakan salah satu warga dan tokoh asal lampung yang menerima penghargaan sebagai pemenang dalam kategori pembina lingkungan.

Penghargaan Kalpataru 2021 itu, diberikan Menteri LHK kepada 10 orang dengan rincian, 4 orang untuk kategori perintis lingkungan, 3 orang penyelamat lingkungan, 1 orang pengabdi lingkungan, dan 2 orang untuk pembina lingkungan. Keputusan Menteri LHK bernomor SK.476/MenLHK/PSKL/PSL.3/8/2021 dan ditandatangani Menteri LHK, Siti Nurbaya.

Suhada adalah warga Desa Brajaharjosari, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur. Suhada aktif dalam kegiatan kelompok sadar lingkungan (POKDARWIS) dan sebagai sukarelawan kehutanan swadaya masyarakat, selaian itu beliau juga aktif dalam kegiatan konsolidasi agar terbangun harmoni antara gajah dan warga, karena selama ini sering terjadi konflik antara gajah dan warga.

Sebagai salah satu warga uang tinggal di wilayah perbatasan dengan Taman Nasional Waykambas, Suhada sudah sangat akrab dan sering melihat berbagai kejadian yang dapat memicu dan menimbulkan konflik gajah versus manusia. Masuknya gajah liar yang masuk dan merusak tanaman warga di berbagai desa penyangga Wakambas, sering kali menjadi permasalahan tersendiri.

Masuknya gajah liar yang masuk dan merusak tanaman warga di berbagai desa penyangga Wakambas, sering kali menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini yang membuat suhada dan warga lain mengantisipasi agar konflik manusia dan gajah dapat diminimalisir. Pengahargaan Kalpataru 2021 sangat berarti karena sebagai motivasi dan inspirasi bagi generasi muda agar bisa mencontohnya.